Empat Sekolah di Berau Siap Terapkan Sekolah Ramah Anak Tahun 2021

img

(Sekolah Ramah Anak SDN 02 Sambaliung)

POSKOTAKALTIMNEWS.COM, TANJUNG REDEB- Melakukan perubahan dan siap lebih maju kedepannya 4 sekolah di Kabupaten Berau menyatakan kesiapannya menerapkan program Sekolah Ramah Anak (SRA) di tahun 2021 ini. Kesiapan itu tentu penuh konsukwensi karena menajamen sekolah harus melakukan perubahan termasuk perombakan total dari program kerja sekolah yang sudah diterapkan selama ini. Apalagi menjadi pilot project SRA karena sekolah tersebut harus sudah siap melaksanakan poin-poin yang tertera dalam SRA dan juga harus memenuhi syarat 3M (mau, mampu dan maju).

“Sasaran utama SRA ini diharapkan anak mempunyai hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar,” kata Plt Kepala DPPKBP3A Berau Dahniar Ratnawati saat dijumpai diruang kerjanya Jl APT Pranoto baru baru ini.

Memang bukan hal mudah, kendatipun hasil pendataan ada 68 SRA tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) yang telah terbentuk di Bumi Batiwakkal akan tetapi  baru 4 sekolah dalam tahun 2021 ini ditargetkan menjadi pilot project. Jadi dari 4 yang ditargetkan, sudah ada 1 sekolah yang lakukan Memorandum of Understanding (MoU) yakni Sekolah Dasar Negeri (SDN) 02 Sambaliung. Sementara 3 sekolah lainnya yakni SMAIT Ashowah, SD Katolik WR Supratman dan SDN 01 Teluk Bayur masih proses.

“ Tatkala sekolah itu menyatakan siap berarti kelayakan dan keamanan bangunan sekolah untuk peserta didik, mulai dari fasilitas, jumlah toilet yang rasional dengan jumlah siswa-siswi, hingga kebersihan makanan di kantin. Kita harus mewujudkan sebuah proses pendidikan, sebuah tempat di mana anak-anak mendapatkan ilmu baru dan pengetahuan baru, benar-benar ramah anak. Dari bangunannya, toiletnya,  ruang kelasnya, termasuk juga dari papan tulisnya. Kemudian perpustakaan, laboratorium, hingga kantin,” paparnya.

 Lanjut Dahniar, kurikulum pun saat telah menjadi SRA penyampaiannya di sekolah tidak boleh memberatkan peserta didik. Dan tidak kalah pentingnya untuk menjadi SRA perubahan paradigma, pola pikir, sikap dan perilaku dari para kepala sekolah, guru, peserta didik juga ada.SRA itu dimana suasana di sekolah harus ramah anak dan mampu menciptakan suasana yang nyaman.

Misalnya, tidak ada tanaman berduri. Itu hanya contoh kecil, dan masih banyak yang lain, yang tertera dalam point-point SRA. Karena sekolah perlu dikedepankan kembali sebagai ruang yang ramah bagi anak. Jangan sampai beranggapan SRA sebatas sekolah aman dari kekerasan akan tetapi makna sesungguhnya adalah sekolah yang aman, nyaman demi menghasilkan anak didik yang berkualitas. Itu sebabnya melalui SRA, sekolah harus mampu menciptakan suasana yang kondusif, sehingga anak merasa nyaman dan dapat mengekspresikan potensinya.

“Dalam hal SRA ini kita berharap sekolah bisa menjamin setiap anak tumbuh dan berkembang secara baik. Mereka harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan dan mengedepankan lingkungan sekolah yang ramah bagi anak. Guna menciptakan sekolah yang bersih, aman, rapi, indah, inklusif, sehat, asri dan nyaman juga ciptakan interaksi positif,”ungkap Dahniar. (sep)